Review

On Managing Your Self (Book Review…To Be)

Sebenarnya sih mungkin saya belum layak memberikan review untuk buku ini…karena belum selesai sodara-sodara…

Tetapi karena saya amat menyukai buku ini, biarpun baru baca sampai bab 3 dari 10 Bab…saya nekad menuliskan review demi mempromosikan buku ini pada teman semua.

Memang tidak semua orang menyukai buku non fiksi. Biasanya bayangan buku non fiksi adalah serius, tebal, membosankan.

Jangankan mau baca, ngeliatnya aja bikin males duluan. Apalagi pas baca judulnya: Manusia Zaman Pra-Sejarah….(ini saya ngarang doank sodara-sodara).

Padahal sih, pikir punya pikir (otak saya sendiri yang suka kadang asal sih) karya fiksi pun banyak yang super serius, super tebal (coba itu lihat Harry Potter), dan ada juga yang membosankan (kalo yang gak pas dengan selera kita).

Saya sendiri amat menyukai fiksi, karena kayaknya pas dengan otak saya yang suka berimajinasi.

Tapi ternyata memang dari kecil saya senang sekali berburu bacaan non fiksi. Kalau ke toko buku, biasanya yang saya pelototin pertama justru buku-buku non fiksi. Mulai dari buku self help dan motivasi (karena saya kalau lagi gundah gulana, galau durjana, ketemu masalah di kantor yang bikin penasaran, biasanya pertama-tama saya akan coba konsultasi dengan buku-buku yang saya punya), buku HR Management, general management, biografi, sejarah, sosial, budaya,termasuk psikologi, arsitektur dan buku-buku agama. Saya bahkan pernah membeli (dan kemudian berusaha membaca sampe jereng) buku-buku menjahit baju karena sebenarnya saya memang ingin sekali bisa jahit baju sendiri.

Setelah puas mengobrak-abrik buku-buku non fiksi, biasanya saya akan beranjak ke Young Adults novel, Children Books, Adult and fiksi lainnya. Saya sudah punya beberapa list penulis favorit jadi kebiasaan saya adalah memulai dari penulis-penulis tersebut. Tapi saya juga terbuka dengan penulis lainnya dan buku-buku yang belum pernah saya baca.

Anyway…saya percaya, kalau kelak saya berhasil menulis sebuah karya fiksi, maka salah satu penyebabnya adalah karena saya banyak membaca tulisan non fiksi tersebut.

Karena karya fiksi yang saya suka, yang menurut saya bagus (menurut saya lho, menurut Anda tentu saya bisa beda) biasanya cukup detil dan untuk fiksi non fantasy dan menggunakan setting beneran, butuh riset yang mendalam supaya gak kelihatan “bohong”nya.

So membaca buku non fiksi sangat berguna bagi mereka yang (bercita-cita) akan menulis karya fiksi.

Ok, sudah cukup pembukaannya ya (dan sudah cukup edit-editannya! Salah muluk nih ngetiknya)

Dalam “On Managing Youfself” ini, Harvard Business Review mengeluarkan 10 tulisan yang menurut mereka masih tetap relevan sampai saat ini. Salah satu tulisan yang saya suka (halah dari tiga tulisan doank) adalah “Management Time: Who’s Got Your Monkey? ” karyanya William Oncken, Jr.  dan Donald L. Wass. Tulisan ini sebenarnya sudah pernah dipublikasikan tahun 1974, tapi pas saya baca, ya ampuuuun…ini gue banget siyyy???–>reaksi o’on saya.

Isi utama tulisan ini sebenarnya mengenai bagaimana kita mengelola waktu dengan cara mampu memilah-milah mana yang sebenarnya kerjaan yang merupakan tanggung jawab dan memang role kita, dan mana yang sebenarnya pekerjaan atau role orang lain. Karena banyak orang yang justru waktunya malah habis mengerjakan pekerjaan orang lain (termasuk bawahannya), gara-gara mereka mau saja menerima pertanyaan atau menerima masalah yang “dilemparkan” rekan/bawahan sehingga bola panasnya ada di mereka, padahal sebenarnya isi pekerjaan tersebut termasuk tanggung jawab dan role  rekan atau bahkan bawahan mereka! Karena kita kadang suka gak sabaran dalam mementor atau meng-coach bawahan agar mereka bisa lebih berinisiatif, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya (termasuk kalau bertanya sesuatu itu harus dilengkapi dengan beberapa opsi jawaban, bukan sekedar bertanya dan mengharap si boss yang menjawab!), atasan biasanya suka mengambil alih peranan si bawahan atau rekan kerja, sehingga akhirnya waktunya habis mengerjakan pekerjaan orang lain!

Hoh….

Artikel menarik lainnya antara lain “Managing Oneself” yang merupakan artikel pertama dari buku ini, ditulis oleh Peter F. Drucker (Bapak Management, so people says), yang pada dasarnya menguraikan tiap orang itu belajar, berkembang, dan berkinerja dengan cara yang berbeda. Ada orang yang belajar dengan mendengar, ada yang menulis, bahkan ada yang belajar dengan berbicara. Ketika orang mengenali cara belajar yang cocok bagi mereka dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari termasuk bekerja, maka ia akan mendapatkan hasil optimal dan luar biasa. Mereka akan mempertajam dan mengasah kekuatannya, bahkan dapat meminimalisir kekurangannya.

Nah, itu dua artikel yang saya coba promosikan dalam review kali ini…ada 8 artikel lain yang saya yakin sama atau mungkin lebih menarik dan yang pasti akan bermanfaat bali kita, setidaknya bagi saya sendiri.

Ini list lengkapnya:

1. Managing Oneself (Peter F. Drucker)

2. Management Time: Who’s Got the Monkey? (William Ocken, Jr., and Donald L. Wass)

3. How Resilience Works (Diane L. Coutu)

4. Manage Your Energy, Not Your Time (Tony Schwartz and Catherine McCarthy)

5. Overloaded Circuits (Edward M. Hallowell)

6. Be a Better Leader, Have a Richer Life (Steward D. Friedman)

7. Reclaim Your Job (Sumantra Ghoshal and Heike Bruch)

8. Moments of Greatness: Entering the Fundamental State of Leadership (Robert E. Quinn)

9. What to Ask the Person in the Mirror (Robert S. Kaplan)

10. Primal Leadership: The Hidden Driver of Great Performance (Daniel Goleman, Rihard Bayatzis, and Annie Mckee)

On Managing Yourself, HBR’s 10 Must Reads
Reading Club

Balikpapan Reading Club

Awalnya saya merasa sedikit banget pecinta buku dan pembaca kayak saya di Balikpapan. Setidaknya di antara teman kantor, yang paling nyambung kalo diajak ngobrol tentang bacaan hanya beberapa orang, salah satunya bernama Mbak Ayang yang saat ini sedang ditugaskan di Paris, Perancis.

Bagi saya selama saya masih punya waktu membaca dan masih bisa mendapatkan bacaan yang saya mau, hidup di Balikpapan insyaAllah tidak masalah.

Tapi tentunya lebih asyik lagi kalau kecintaan kita terhadap bacaan tidak berhenti hanya pada tahapan membaca, tapi diperdalam dengan berpikir.

Kata orang, readers are many, thinkers are rare (lupa kata siapa). Dan salah satu cara yang sepertinya cukup ampuh untuk mempertajam pikiran kita adalah dengan berdiskusi.

Untungnya, saya dikenalkan dengan Mbak Mel, or sering juga dipanggil Mbak Mei, yang ternyata adalah sahabat Mbak Ayang.

Mbak Mel ternyata pecinta buku juga (oh senangnyahhh), dan lebih aktif dari saya dalam dunia penulisan, perbukuan, termasuk per”lukisan” (okeh, saya akui, ini sepertinya bukan istilah yang benar). Ditambah lagi kita sama-sama berprofesi di dunia HR, jadilah nyambung.

Ternyata eh ternyata lagi, saya juga dipertemukan dengan Nina Tunjung, salah satu teman les Perancis yang akif suratif terutama dalam kegiatan kampanye Balikpapan Berkebun. Nina ternyata mengenal Mbak Mel, karena mereka berada dalam suatu kelompok pendukung perpustakaan. Nina dan Mbak Mei juga berteman juga dengan Annisa dan Milla, yang merupakan pendiri/anggota Nulis Buku cabang Balikpapan.

Maka jadilah, kami berlima, sepakat untuk mulai bertemu dan mendiskusikan buku yang kami baca.

Pertemuan perdana dilakukan di rumah Mbak Mel, kalau tidak salah 8 September 2012.

Senang bisa bertemu dan berdiskusi dengan sesama pecinta buku.

At least we found a way to make our brain alive! 🙂

Maju terus pantang mundur ya teman-teman!

Pertemuan perdana Balikpapan Reading Club (halah…). Mari kita teruskan semangat membaca ya teman-teman!
Review

This Month Fantasy Books: Holly Black’s Curse Worker Series

I really love the series.

Curse Worker series by Holly Black

.

I love the way Holly Black exposed the character, especially on how they think and feel.

The Curse Worker Series consisted of 3 books: White Cat (Book 1), Red Glove (Book 2) and Black Heart (Book 3), but I think you can read it independently. I read the 2nd book first. But the strong opening in White Cat makes me fall in love with it.

“I wake up barefoot, standing on cold slate tiles. Looking dizzily down. I suck in a breath of icy air. Above me are stars. Below me, the bronze statue of Colonel Wallingford makes me realize I’m seeing the quad from the peak of Smythe Hall, my dorm. I have no memory of climbing the stairs up to the roof. I don’t even know how to get where I am, which is a problem since I’m going to have to get down, ideally in a way that doesn’t involve dying.” (White Cat, Holly Black, Chapter I)

The main character is Cassel Sharpe, a 17 years old boy who, for me,  feels trapped and choose to become an almost compulsive liar, mostly lying to him self, keep his head low while trying to solve the problem and danger caused by his dark magic power (transformation curse, an ability to change anything into anything he wanted) and family. He loves his family and friends, but he knows he brings danger, his memory has been purposedly erased and changed and that makes him believe he killed his best friend Lila, and that’s why he tries to stay away from everybody.

Only people seem just could not stay away from him.

Black put his character as the first person point of view, which I think is quite brave since everything will be limited to this person’s view. But Holly knows better in playing the emotion. She made it so visual I read it just like I watch a movie.

In each book, you can see everything is starting to grow. Starting from the 1st book where Cassel accidentally found out about his dark magic power and    start to know the truth about his memories that have been cut off by his own brother. That he did not kill his best friend the way he always think and feeling guilty about it. Lila is still alive, Cassel is not a killer and he needs to find a way to save her, save his family, and also him self. In the 2nd book, Cassel’s oldest brother was killed and the FBI agent is starting to open a murder case which is most likely related to Cassel’s dark magic ability, transformation. Working with FBI agent will expose Cassel’s family, who are illegally working for the most dangerous mobster at that time, Lila’s father. At the same time, Cassel’s mom, an emotion worker, has turned Lila emotion and made her loving Cassel blindly. Cassel feels tortured because he realized that he loves Lila, but Lila’s feeling for him was not real. In the 3rd book, Cassel got involved deeper with the FBI agents, and his mom was deeply involved with a corrupted politician with unstable emotion, running the government against FBI and the Mob. Lila has officially become a member of his father’s mobster business. FBI has approached Cassel to join them so they can use his ability to prevent dangerous statement from the governor.  In this final book, Cassel, once again, tortured between loving his family and Lila, he tried to escape from the FBI’s trap and the Mob.

I read these book more than 3 times. I just feel not get enough Holly Black’s juicy way in expressing Cassel’s feelings.

Try it.

Learning

Balikpapan Story part 1

Bersama teman-teman les Bahasa Perancis…keep learning new things…new language…other culture…

Tidak terasa saya sudah lebih dari 3 tahun tinggal di Balikpapan.

Awalnya saya pikir Balikpapan itu masih hutan (o’on.com), tapi setelah diterbangkan ke sana untuk interview, pandangan saya berubah.

Ada kota di tengah hutan (teteup). hehehehe…

Saya becanda.serius.becanda.

OK let’s stop it.

Balikpapan bagi saya (lama-lama) bisa jadi kota favorit.

Udah gak macet, bersih, teratur, fasilitas publik cukup lengkap, rame dan orang-orangnya gak ada lagi yang asli Balikpapan.

Lha kenapa gak ada orang-orang asli jadi poin positif bagi saya?

Ya karena dengan demikian, saya yang sudah kelamaan tinggal di Jakarta (Bandung numpang lahir doank, kalo ke sana masih berasa tamu. Ditanya tahu tempat XXXX, or YYYY, maka jawabannya “Ngggg…..” lalu nyengir—> begitulah) langsung tune in dan tidak merasa sulit untuk beradaptasi dengan kehidupan kotanya.

Di Balikpapan, penduduknya sudah campur baur mulai dari bule-bule (berbagai negara, kebanyakan Perancis), orang Jakarta (banyak abis), orang Jawa, Bugis, Batak, Sunda, Jawa (did I mention this one? maap dua kali, abis banyak sih), Samarinda, dkk, dll.

Perkembangan kotanya pun menurut saya sangat pesat mulai dari 2009 sampai sekarang.

Ngomong-ngomong sadarkah Anda saya sejak tadi banyak sekali menggunakan kata “mulai” dan “dari”?

Kurang kreatif nih ah.

Anyway

Kalau pakai kategori anak muda (????–>maap saya males kalo harus ilmiah…udah pernah waktu kuliah, di sini seenaknya dikit boleh yak), nyang dulunya gak ada Star Bucks, sekarang udah ada dua (iya, ukuran ini memang agak dodol, nyebutin merek pulak). Dari yang Gramedianya kecil banget dan bikin frustasi (apa inihhh??? buku tulis doank isinyah???—>reaksi pertama kali ke Gramedia Balikpapan), sekarang sudah jadi gede dan lumayan banyak koleksi bukunya, membuatku mencintainyah. Bahkan sekarang ada dua Toko Periplus dan satu Toko Buku Times…eh maap, Periplus baru aja tutup 30 September 2012 (huhuhuhuhu…tapi akan ada 1 lagi Times sebagai penggantinya–> amiin).

Rumah Sakit? Mulai dari RS Pertamina Internasional, sampai sekarang ada Siloam (dengan Times book store-nya).

Mall?

Hohohoho….jangan khawatir.

Bagi mereka yang emang demennya ke mall , sudah ada 2 mall besar di Balikpapan. Yang saya maksud besar adalah:

1. Kalo jalan keliling mall mayan capek, ya kira-kira butuh 30 menitlahhhh, 5 jam kalo sprint 50 kali keliling mungkin

2. Ada Star Bucks dan The Body Shop yang herannya laku (target marketnya berarti udah laen)

3. Ada bioskop minimum XXI

4. Ada banyak ATM (biar pada ngabisin duitnya di mall)

5. Ada banyak resto dengan menu internasional, mulai dari sushi, makanan itali, ama chinese food (is it international menu?–>emang masih bego…maapkan) and tentu saja…McDonalds (ni franchise bused dah laku bener).

Selain mal besar di atas, fasilitas lain yang membuat saya merasa Balikpapan cukup lengkap antara lain ada beberapa sekolah internasional, mulai dari French School, British School, termasuk sekolah nasional plus seperti GLobal Islamic School…plus ada Ace Hardware dan Informa yang juga menunjang kehidupan di kota ini.

Tampaknya hidup di Balikpapan relatif nyaman dan tidak menakutkan seperti yang kayaknya dibayangkan orang.

Kadang-kadang saya malah merasa Balikpapan gak beda jauh dengan Jakarta, cuma versi mininya saga (fasilitas publik, institusi pendidikan sampe hiburannya emang masih lebih minim siiiy) dan jauh lebih teratur serta bersih, relatif lebih aman, tapi dengan ironi kota energi yang sering mati lampu dengan kualitas air yang rendah sehingga punya generator dan penyaring air menjadi kebutuhan utama (jadinya mirip Jakarta apa enggak ya?). Kalau pemerintah kotanya membiarkan kota ini begitu aja tanpa menjaga kuantitas mobil pribadi dan memperbaiki sistem transportasi, bakalan macet-macet juga dan terpolusi seperti Jakarta (doh mudah-mudahan jangan donk).

Sayangnya, institusi pendidikan untuk umum sepertinya masih kurang berkembang, baik dari jumlah maupun kualitas, begitu pula bisnis-bisnis terkait pendidikan seperti kursus bahasa asing (mungkin sayanya aja kali ya yang kuper).

Kalau tidak disokong oleh perusahaan-perusahaan asing yang ada, mungkin tidak akan ada Allianze Francais atau sekolah KPS (konsorsium beberapa perusahaan migas).

Tadinya saya berpikir, dengan beragamnya penduduk yang kebanyakan “imigran” dari kota-kota besar lainnya, di antara mereka pun banyak yang bekerja di perusahaan asing dan berskala internasional, juga banyaknya orang asing yang berkeliaran, maka saya berasumsi komunitas bacanya juga besar dan berkembang, dan dengan daya beli yang relatif tinggi, maka toko-toko buku termasuk yang menjual buku impor akan bisa bertahan.

Kenyataannya sampai hari ini hanya Gramedia yang masih ramai dikunjungi pengunjung dan barang-barangnya benar-benar dibeli (itu pun kalau saya amati memang yang banyak dibeli adalah alat tulis). Periplus sudah tutup padahal baru ada kira-kira setahunan. Times sepertinya masih bertahan karena ada RS Siloam.

Yang justru semakin hip memang fasilitas perumahan dan even-even hiburan. Konser musik semakin banyak (yang mana di satu sisi ya bagus-bagus aja biarpun saya lebih memilih kegiatan lain), bioskop, tempat nongkrong or tempat makan.

Tempat clubbing? Kayaknya yang satu ini mah tidak akan pernah mati. Hotel-hotel bintang 4 dan 5 sepertinya hampir selalu penuh karena seringnya meeting atau kunjungan bisnis pegawai-pegawai perusahaan migas, termasuk digunakan sebagai tempat rekrutmen maupun training.

Di satu sisi, Balikpapan memang berkembang pesat, tapi di sisi lain, saya bertanya-tanya sebenarnya kota ini ciri khasnya apa sih? Apa yang asli Balikpapan selain seafoodnya (yang btw, ueeenaaaakkk…..) serta batu-batu etnik atau batik sasirangan di pasar kebon sayur?

Ada sih, masih tetap ada.

On the next chapter mungkin.

#carimakandulu

passion

Apple Surapple

I love apple. Fruit and computers.

Masih takjub dengan kecanggihan program-programnya.

Bayangkan, bisa-bisanya gitu kepikiran untuk mengoptimalkan penggunaan jari sebagai mouse.

Sapuan jari untuk cursor.

sapuan dua jari berfungsi jadi scroll.

Sapuan empat jari membuat kita berpindah program yang sedang dibuka.

Sapuan all fingers means check desktop…

Itu baru sapuan, belum lagi ketukan…

Hueeeee…jenius banget siy…

Luv you so much!!

#masiheuforia

passion

Ex. Deleted, Starting Over

I guess deleting a page is easier than writing a lame posting.

Udah lama banget euy kagak nulis nulis. Call it writers block….or whatever those fancy words…yang pasti mungkin emang ini ciri-ciri orang yang baru belajar nulis. You feel passionate about writing…you dream someday you can publish your own books…but you just keep missing the time for reading and not put enough efforts to write.

I guess it is never too late to start over. Or just actually start a new thing. As long as you believe in it.

A friend of mine has decided to try a completely new career. She did it without any fear.  I mean, with the hard economy this year, declining oil price, uncertainty upon presidential election, and definitely more expensive living expense, she put an example how to start your dream now. Even if you need to start it from a small one. And she believe her decision will bring her and her family a better life. A happier one.

So I guess that is what I’m doing now.

Starting over.

Doesn’t work? Keep trying.

Feel cannot bear? Double dare.

(see? I’m babling. Ciri2 otak udah mulai ngehang).

 

 

@balikpapancity,karangjawaseblahmasjid