Learning, Life

Crazy Little Things Called Love

Mungkin itu sebabnya Queen menciptakan lagu Crazy Little Things Called Love.

Karena yang membuat kita merasa hidup, merasa sayang, cinta, tidak selalu hal-hal besar.

Seperti merasakan nikmatnya harum seduhan kopi panas di pagi hari.

Atau suara rintik hujan.

Menemukan Ibu bebek dan ketiga anaknya di selokan sewaktu berjalan kaki menuju kantor.

Senja.

Membaca buku kesukaan.

Merasakan hangat dan beratnya si kucing yang duduk di pangkuan.

Dijemput di bandara oleh anggota keluarga atau orang yang kita cintai.

Mendapatkan sms atau bbm yang bertanya apa kabarmu? Kangen!

Sepertinya daftar hal-hal kecil yang membuat hati ini ringan dan garis  bibir melekuk ke atas tidak akan pernah habis ditulis.

Tapi kalau dipikir-pikir, banyak juga kemarahan yang dirasakan ternyata bermula dari hal-hal kecil.

Seperti pandangan mata, yang terjadi pada cerita berikut ini (Jreng..jreng…jreng…#backsound).

Saya sangat menyayangi kakak dan adik saya, Mila dan Linda. Biarpun jarak kami kata orang cukup jauh, sekitar tujuh tahun dengan kakak dan lima tahun dengan adik, dalam pandangan saya, hubungan kami termasuk sangat baik. Kami semua suka musik, sushi, dan nonton. Kami juga saling tahu apa kelebihan dan kekurangan kami dan menerima tanpa syarat bahwa itulah masing-masing dari kami. Kakak saya kidal dan hobi mendesain website serta segala hal berbau Korea, sangat ramah dan cenderung kekanak-kanakan. Sering saya atau adik saya jadikan sasaran protes, tapi ia paling sabar di antara kami semua. Sementara saya total mencintai buku, tertarik dengan segala yang berbau budaya terutama Jepang dan pendidikan, dan entah mengapa banyak orang yang mengira saya anak sulung. Mungkin karena suka merintah-merintah (haha) dan kadang-kadang dijadikan tempat bertanya (ehem, kalo emang lagi normal). Adik saya? Menurut saya dialah yang paling pintar dalam keluarga kami. Ia berjiwa paling sosial, suka crafting, backpacking, serta menjadi magnet dalam dunia persawahan…eh…pertemanan. Perbedaan menjadi sudah biasa dalam kehidupan keluarga kami dan tampaknya sejak kecil kedua orangtua kami membiarkan kami tumbuh apa adanya. Mungkin itu sebabnya tidak ada satu pun dari kami yang masuk ke SMU bahkan universitas yang sama. Kami pun tumbuh dengan kondisi cukup terbuka mengenai pendapat masing-masing, bisa saling tarik urat leher kalau sudah tidak setuju, tapi setidaknya kami selalu berusaha menjaga satu sama lain.

Namun biarpun saya merasa sangat mengenal kakak dan adik saya, setiap kali pasti saya merasa belajar hal baru mengenai mereka. Kadang saya merasa mengapa saya tidak mengetahui hal itu? Atau mengapa ia tidak memberitahu saya mengenai hal ini? Hal-hal yang kadang membuat saya bertanya-tanya apakah saya sudah cukup mengenal mereka. Saya rasa pembelajaran mengenai orang-orang yang kita kenal dan cintai akan berlangsung seumur hidup. Dan penting sekali mempelajari hal-hal kecil, karena di sanalah awal mula hal-hal besar.

Tadi malam saya belajar cukup banyak mengenai hal kecil yang menurut saya penting, namun sering saya lupakan.

Awalnya pembicaraan kami ringan-ringan saja. Saya sedang membaca (ehem…yah…namanya juga hobi…jadi di mana pun saya berada, kecuali sedang tidur dan di kamar mandi, umumnya saya akan ditemukan dalam kondisi…membaca) buku fiksi ketika melontarkan sekelumit impian saya untuk memiliki toko buku. Toko buku yang bukan sekedar jualan buku. Namun sebelum saya selesai berkicau panjang lebar tentang toko buku idaman saya itu, adik saya, yang saat itu sedang melakukan sesuatu pada wajahnya di meja rias pun merespon dengan bertanya, emang budgetnya berapa?

Ketika menulis ini tampaknya percakapan kami biasa saja. Tidak ada yang aneh dengan perkataan saya maupun pertanyaan adik saya. Normal.

Tapi saya belajar bahwa kata-kata yang kita ucapkan memang jauh lebih sedikit artinya dibandingkan dengan bahasa tubuh dan emosi yang kita rasakan. Cara adik saya bertanya, pandangan mata, posisi alis dan dagu, dipadu dengan perasaan saya saat itu, membuat saya menginterpretasikan pertanyaannya menjadi: emang serius mau bikin toko buku? Emang bisa untung? Emangnya berani keluar duit berapa? Investasi yang kecil aja mikirnya berkali-kali, sok-sok mau bikin toko buku.

Dan saya pun mulai menjawab dengan nada sengit bahwa yang penting itu konsep dulu. Budget bisa dicari. Kalau apa-apa dimulai dari budget tanpa jelas konsepnya, maka itu namanya sekedar jualan. Hasilnya seperti dua toko buku di Balikpapan yang baru-baru ini tutup. Mereka, menurut saya, sekedar toko. Tidak terlalu peduli tentang komunitas pembaca, tidak peduli pentingnya ada toko buku yang menjual buku-buku bermutu yang variasinya tidak hanya karya lokal tapi juga internasional bagi penduduk kota Balikpapan.

Sebenarnya kalau saja saya berhenti di situ, maka perdebatan panjang yang membuat dada ini panas tidak perlu terjadi.

Tapi salah satu kekurangan saya adalah cenderung mengatakan apa yang saya pikirkan. Jadi saya teruskan pendapat saya mengapa konsep itu penting dan saya ingin bahwa saya selesai dulu berdiskusi tentang konsep, baru bicara budget.

Kalau kami ini kucing, mungkin sudah saling mendekatkan kepala dengan telinga memipih, bulu-bulu kami tegak dan ekor kami kaku, saling mengeong keras siap untuk mencakar.

Tapi seperti ada seseorang yang menyiramkan air, masing-masing dari kami mengerti saatnya untuk saling tutup mulut dan menahan diri.

Perdebatan itu ditutup dengan kesimpulan bahwa saat itu kami berdua belum bisa melakukan bisnis bersama dalam dunia perbukuan. Ada banyak getaran penuh tegangan di sana, rasa panas di dada saya masih terasa. Saya yakin adik saya pun demikian.

Tapi satu yang pasti, saat itu kami tidak merasakan titik temu.

Rupaya jualan saya kurang laku.

Kalau di kantor dan adik saya adalah Bu Boss, she’s not buying it.

But you know what?

Ini terjadi juga dengan adik saja.

Ia menekankan pentingnya budget dulu, supaya bisnisnya realistis dan bisa langsung jalan.

I was not buying it.

Bukan karena argumen saya ataupun adik saya salah. Saya yakin betul bahwa tujuan dan konsep yang baik dan jelas sangat penting dalam memulai suatu usaha, kegiatan, tindakan, apa saja. Strategi serta taktik supaya misi bisa tercapai adalah yang berikutnya. Saya dan adik saya sama-sama mempelajari marketing dan pola pikir seperti itu bukan hal asing bagi kami. Dan budget? Sudah pasti penting. Apalagi dalam bisnis.

Tapi mengapa ide dan perkataan saya mental? Dan mengapa jualan adik saya tentang pentingnya mulai dari budget supaya suatu bisnis itu realistis juga tidak masuk ke kepala saya (atau setidaknya saya tidak setuju hal itu jadi yang utama)?

Setelah merenung-renung, mengalihkan pembicaraan dan memutuskan untuk menyimpan apa pun perasaan saya sampai esok harinya,  akhirnya saya berkesimpulan, penyebab utama jualan saya maupun adik saya kurang laku adalah bukan karena isi kata-katanya, tapi lebih karena cara mengatakannya.

Kami berdua sama-sama menggunakan cara yang kurang tepat ketika menjual ide kami.

Cara tersebut mungkin hanya tersirat, tidak terucap kata ataupun suara keras, dan dalam durasi yang bisa lebih cepat dari langkah kaki. Namun hal itu dapat mengungkapkan segalanya. Termasuk penghinaan yang meremukkan hati.

Seperti…pandangan mata.

Kerut di kening yang membuat kita menangkap maksud bahwa “Anda meragukan saya”.

Dengusan kecil.

Gerakan mengangkat bahu.

Atau sekedar membuang muka.

Saya percaya masyarakat Indonesia secara umum memang memiliki bahasa yang lebih banyak tersirat daripada tersurat. Saya pribadi cenderung lebih suka tersurat. Apa yang saya ucapkan itulah yang saya rasakan. Tapi ternyata dalam menjalin hubungan, saya tetap harus menghormati pilihan dan kebiasaan orang lain yang lebih suka menyimpan perasaannya. Dan salah satu cara paling efektif dan strategis ketika menghadapi perbedaan pendapat kadang-kadang justru dengan diam, mulai mendengarkan lebih banyak.

Saya belajar hari ini bahwa kita harus lebih menghargai dan waspada terhadap hal-hal kecil.

Menghargai dan mensyukuri hal kecil yang sifatnya menyenangkan hati. Waspada dengan berusaha sekuat tenaga untuk menguatkan hati agar tidak bertindak ceroboh ketika menghadapi hal kecil yang sifatnya menggoda kerut dahi, pedasnya lidah, ataupun kerasnya kepalan tangan.

Mencoba bersungguh-sungguh membuat orang lain menjadi penting.

Karena mereka memang penting.

Karena saya cinta.

Dan saya ingin mereka pun merasakan hal yang sama.

Maka untuk sesuatu yang penting, untuk sebuah cinta, saya belajar hal-hal kecil dan detil itu harus diperhatikan dan tidak boleh terlewatkan.

Karena hal-hal besar, berasal dari hal kecil.

Sebatang pohon cinta, haruslah disiram, diberi pupuk, dan didoakan agar terus tumbuh besar dan tetap hidup.

Selamanya.

@Bandungwithmyfamilywaitingforthespanishdish

Paella Negroz. Masakan Spanyol yang terdiri dari nasi goreng tinta cumi, dikasih topping cumi goreng tepung, udang, sayur-mayur, ikan dori, jamur.
Life

Burning the Bridge (NOT) at Bukit Bangkirai

Meet one of the most beautiful and rare Canopy Bridge, 2nd in Asia, 8th in the world: Bukit Bangkirai, Balikpapan, East Kalimantan District, Indonesia.

I’ve been living for more than 3 years in Balikpapan and the guilt of “not really knowing” the town is starting to sicken me. So when my little sister came for holiday and asked me to take her to see Balikpapan especially this famous (not yet?) canopy bridge, without any doubt I say agree.

Well that’s before we settle some issues that almost got in our way.

Bukit Bangkirai is located in Kilo 38, so I guess it is 38 kilometers from Balikpapan?

We rent a car and departed at 6 a.m. Guess what. We arrived there at 7:30. The first visitor on Sunday morning. Yay.

If anybody asked me whether it is save to go there, I would say, yeah…it is, as long as you use a proper car. I did not use a 4 wheels car, and so far it was OK. You will feel more comfortable if the AC in your car works properly, since you are in a most tropical area in Indonesia. Humidity is high and you will sweat easily.

The road is not a toll quality, but it is basically OK. Some parts are damaged, but I think it will not stop you from the ride.

Oh, better to get there during a sunny day. Balikpapan is naturally shaped as peak and valley so you want to watch your road there.

Another thing: no cellular phone signal.

You know what to do (just inform someone you knew where you are going…OK, just in case).

So, we arrived at the reception area. There are several little cottages there that you can actually rent, and I would love to if we have more time. But we have a plane to catch in the afternoon so we did not rent it.

You only need to pay IDR20,000/person for the ticket.

At that time, it seemed that the tour guide was still asleep, so we just went by ourselves.

Of course not (who do you think we are? Malls we dare, woods we scare)!

Fortunately that our driver has visited Bukit Bangkirai for more than 5 times. He was so kind & agreed to take us there. We need around 500m tracking (that is walking through the forest, up and away folks!) to get to the canopy bridge, and we need to cross 1 little canopy bridge in the first 5 meters.

It was a new experience for me so I felt excited. I was sweating a lot because the humidity level is like million degrees (or any measurement tool it should be), but the huge and surprisingly clean forest has just blown me away.

It was beautiful.

You can see huge and tall trees and it was so tight between them you start to wonder what’s inside (maksudnya tuh pepohonannya rapet bener). I saw two birds walking (yes, I meant walking, as using feet to make steps) down the steep land of forest.

It took us perhaps around 20-30 minutes, until we got to the Canopy Bridge gate. The road is not yet over, because we need to climb a 30 meters ladder attached to the trees used to tie the bridges. I was out of breath immediately after 10 steps (and regretted why I stopped exercising since…oh well…5 years ago I think), but I kept going until finally we arrived at the top of the ladder.

The view was breath taking. I can tell you.

And to take a step onto the bridge was…scary.

The thought of falling down was rushing through my brain. The article I read says that this bridge was built to last around 15-20 years of time. And it’s has been what, 14 years after the first time they attached it to the trees? And what if the man’s calculation is wrong? Does the government take care the maintenance for safety? Did they do a good job so the case of Tenggarong Bridge falling down will not happen to this one? Have I paid all of my debts? Before I die?

Bismillah.

I took a step on the first bridge. Then another step. The wind was blowing slowly. The canopy bridge was waving and shrieking. I don’t fear heights. That’s an advantage. But I weighted almost a ton. 90 Kg to be exact (there, I said it). With a 5 kg handbag on my left shoulder (why should I brought it?).

It only took less than 5 minutes to cross the bridge.  I was successfully crossed it.

Yay!

Not so fast.

There were 3 long bridges to be crossed.

And the 2nd is the longest.

You see, the 1st and the 3rd bridges were connected. So I can start from 3rd bridge then ended on the 1st, vice versa. Each tree was being attached by ladders. But the 2nd bridge, I don’t have any idea why, WHY the founder decided not to put a ladder on the tree for the 2nd bridge. It does not have any ladder to go down. So you will need to cross the 2nd bridge 2 times, back and forth.

For about 1 full minute I’m thinking not to cross it because it looks so long, no ladder to go down, and it was windy.

My hands are sweating and it was not because of the weather.

I thought, Dear Allah SWT, I would like to cross this bridge because it is the longest one and seems I can learn a lot from this experience. Please save me because of it.

I crossed the bridge.

I WANNA GET OUT OF HERE AS FAST AS I CAN!

I screamed fearfully when I was crossing it.

Only in my mind.

My fingers clamped the ropes so tightly it turned all white.

It was the helpless feeling you have when you were on a plane. The difference is on the plane you sit on a comfortable chair, get a meal (for some) and can decide to sleep so you don’t need to think about heights. While on a canopy bridge, you are walking, taking it step by step in order to cross it. If you don’t do it, nobody is going to do it for you.

It was then I understood, again, we human, is nothing to our Creator. But we can be so arrogant because of only small things. Like money. Position. Good looking face. Good body. High education degree.  The royal blood (we think) in us (they are all red for God’s sake). Winning an election. Living abroad. Not living abroad. Able to work and earn a living by yourselves. Has a talent to write. Or in sport or music.

Finally I was able to cross all the canopy bridges and went back to the reception area (another 500m tracking).

The three of us (me, my little sister, the driver  aka “temporary guide) felt hungry so we decided to order hot noodles (yummy).

It felt good.

Able to understand that ALLAH SWT IS THE MOST INCREDIBLE, ALL MIGHTY.

By only looking to His creation.

The forest. The wind. The trees.

The canopy bridge is built by an American, but who creates man?

I recommend to all of you, if you have time and spirit to learn, go to Bukit Bangkirai.

It’s worth it.

We need to get through this gate to go to Bangkirai’s reception (not there yet).
Main Gate. Welcome to Bukit Bangkirai
Rented cottage. Looks nice, but I did not see the inside.
This is the 1st canopy bridge that we need to cross, the shortest one, but not (yet) at Bukit Bangkirai. Good enough for familiarization though! 🙂
We walked under these fine trees…
Tracking for about 500m. Up and Awaaaay!
Ini sebelum treking.
My Lil Sister (Linda) in action. Final Gate. sampe juga….NOT! Masih kudu manjat dulu….
Nah ini dia…starting point sebelum menyebrangi Canopy Bridge Bukit Bangkirai. The notorius ladder. Abis jaraknya 30 meter ke atas bok. Mayan olahraga hehehe…
Ready for the 1st canopy bridge. Go Rika Go! *sambildidorong-dorongLIndadaribelakang
2nd and Longest bridge. Anginnya kenceng. Jalan kayak siput. Kudu bolak-balik kalau mau turun, karena tidak ada tangga di sebrang sana.
Abis nyebrang canopy bridge ketiga terus turun. Foto dulu ah.
Reading Club

Pasta Ciello Ladies…(Kumpulances Kedua Balikpapan Reading Club)

We are back! Balikpapan Reading Club in Action!

Akhirnya…kami para pecinta buku/membaca pun berkumpul kembali sodara-sodara!

Kali ini di Pasta Ciello, sebuah…apa ya, restoran kecil di lantai II Mal BSB.

Tempatnya memang kebetulan langganan saya, suasananya menyenangkan karena dekorasi yang diatur sedemikian rupa sehingga terkesan berbeda dari restoran lainnya (sulit dijelaskan, cobalah berkunjung sendiri), dan makanannya pun mantap di lidah (biarpun belum tentu di kantong…hehehehe).

Biasanya kami selalu saling bertukar sapa dalam email sebelum bertemu. Dimulai dari bu Ketua, Mbak Mei, yang dengan sigap mengingatkan bahwa hari ini sudah dijadwalkan untuk bertemu jam 15:00 (yang mana sebenarnya saya hampir lupa kalau waktu ketemuannya jam 15:00, kalau gak baca email kayaknya baru jam 16:00 saya datang). Yang datang ternyata cukup lengkap (Mbak Mei, Nina, Nissa, Milla), bahkan bertambah dua teman baru (Nenno dan Maya).

Pada pertemuan kali ini yang dibahas adalah buku dengan genre sesuai kesepakatan sebelumnya, FANTASY! Yay!

Tapi memang seperti yang beredar di email, ternyata beberapa teman mengalami “distraction” dalam menyelesaikan bacaannya. Termasuk saya.

Entah mengapa, sudah beberapa tahun terakhir saya sering kehilangan fokus dalam membaca buku. Sedang baca buku yang XXX, tahu-tahu pas melihat buku yang lain, jadi baca jug-a buku YYYY. Maka akhirnya saya sometimes membaca buku XXX dan lain waktu YYYY. Saya bisa membaca beberapa buku dalam hari ataupun kurun wake yang sama.

Sejak pertemuan pertama kami tang gal 7 September 2012, saya memang membaca empat buku dari genre Fantasy tersebut, tapi itu karena emang kebetulan saya pecinta buku Fantasy dari dulu. I guess there is always a little child in me who takes over when I read those kind of books.  Dan di tengah-tengah proses membaca buku-buku itu, tetap saja saya beberapa kali teralihkan untuk membaca yang lain, termasuk Franny and Zooey (lihat reviewnya di sini) dan masih juga menyelesaikan On Managing Yourself .

Namun demikian, jangan salahkan Bunda mengandung Balikpapan mendung (kriukk), kami tetap riang gembira dan ketawa-ketawa seru, apalagi dengan cerita Mbak Mei tentang Ubud Writers & Readers Festivals yang sudah berlangsung di awal Oktober lalu. Bikin ngiler untuk ikutan tahun depan.

Festival ini ternyata memang sudah menjadi kegiatan tahunan yang lingkupnya internasional. Isinya bermacam-macam, mulai dari workshop penulisan, pertunjukan teater, sampai ke peluncuran buku baru dari berbagai penulis, asing maupun lokal. Para sineas, penulis maupun pecinta buku pun bercampur baur di sini. Mbak Mei baik sekali membawakan semacam Event Catalogue yang isinya lengkap mulai dari detail acara sampai ke tokoh-tokoh sastra/penulis/sineas yang diundang ke acara tersebut.

Ubud Writers & Readers Festival, October 2012

Setelah berkicau kacau (culik dikit judul bukunya Indra Herlambang, pinjam ya Om) dan ketawa-ketawa, plus foto-foto, kami pun akhirnya bersepakat untuk membaca dan membahas Lalita, buku karya Ayu Utami, di pertemuan berikutnya. Saya pun pamit karena buru-buru mau sholat ashar, yang mana kemudian bikin saya lupa pamitan sama suami Mbak Mei, Nina and Annisa (maapkeun).

Semoga tercapai ya target bacanya teman-teman! Cemungudh !!!(menunggu digampar) and see you next month!

Review

Franny and Zooey (Book Review To Be 2)

By J.D. Salinger

I just want to share that I was tempted to buy this special book because it has been promoted by two favorite persons of mine. One is one of my best friends, Nana Adha, who has a hell of incredible English capability and a lovely taste of English literature and other reading materials, the other is Landon Liboiron, a Canadian actor who recommended this book during an interview (I don’t know him personally, just to be clear).

I (am still trying to) read Franny and Zooey everywhere.

This novel written by J.D. Salinger doesn’t not have so many pages compared to Rowling’s Harry Potter.

However until page 109 out of 202, I’m still struggling to get the whole idea.

I get that Franny and Zooey are siblings who have unique thoughts and outspoken. They are nearly genius (or already are) in their artsy personalities in a way that their family, especially their mother could not understand.

However in the page 109 I just get started to see the plot…and it is quite an effort to see that for me because Salinger wrote it with 1955 setting, in which at that time some of the terms perhaps are considered cool, but for me it’s a little bit unfamiliar.

Salinger also wrote the story in almost manuscript or play way. It is full of dialogues with specifics descriptions about the “Actor” actions. Normally I love story that is written in a way I can imagine the scenes…but perhaps I need scenes where I can understand what’s going on, the plot, the whole idea.

It is still interesting and I am still eager to finish this book because J.D. Salinger is a famous Author, and perhaps it is time for me to broaden my reading to this kind of book.

So let’s check it out again when I finished it.

Aamiiiin……!

Ps. It took me so many times to edit this “review to be” article…tsk…tsk…

Review

On Managing Your Self (Book Review…To Be)

Sebenarnya sih mungkin saya belum layak memberikan review untuk buku ini…karena belum selesai sodara-sodara…

Tetapi karena saya amat menyukai buku ini, biarpun baru baca sampai bab 3 dari 10 Bab…saya nekad menuliskan review demi mempromosikan buku ini pada teman semua.

Memang tidak semua orang menyukai buku non fiksi. Biasanya bayangan buku non fiksi adalah serius, tebal, membosankan.

Jangankan mau baca, ngeliatnya aja bikin males duluan. Apalagi pas baca judulnya: Manusia Zaman Pra-Sejarah….(ini saya ngarang doank sodara-sodara).

Padahal sih, pikir punya pikir (otak saya sendiri yang suka kadang asal sih) karya fiksi pun banyak yang super serius, super tebal (coba itu lihat Harry Potter), dan ada juga yang membosankan (kalo yang gak pas dengan selera kita).

Saya sendiri amat menyukai fiksi, karena kayaknya pas dengan otak saya yang suka berimajinasi.

Tapi ternyata memang dari kecil saya senang sekali berburu bacaan non fiksi. Kalau ke toko buku, biasanya yang saya pelototin pertama justru buku-buku non fiksi. Mulai dari buku self help dan motivasi (karena saya kalau lagi gundah gulana, galau durjana, ketemu masalah di kantor yang bikin penasaran, biasanya pertama-tama saya akan coba konsultasi dengan buku-buku yang saya punya), buku HR Management, general management, biografi, sejarah, sosial, budaya,termasuk psikologi, arsitektur dan buku-buku agama. Saya bahkan pernah membeli (dan kemudian berusaha membaca sampe jereng) buku-buku menjahit baju karena sebenarnya saya memang ingin sekali bisa jahit baju sendiri.

Setelah puas mengobrak-abrik buku-buku non fiksi, biasanya saya akan beranjak ke Young Adults novel, Children Books, Adult and fiksi lainnya. Saya sudah punya beberapa list penulis favorit jadi kebiasaan saya adalah memulai dari penulis-penulis tersebut. Tapi saya juga terbuka dengan penulis lainnya dan buku-buku yang belum pernah saya baca.

Anyway…saya percaya, kalau kelak saya berhasil menulis sebuah karya fiksi, maka salah satu penyebabnya adalah karena saya banyak membaca tulisan non fiksi tersebut.

Karena karya fiksi yang saya suka, yang menurut saya bagus (menurut saya lho, menurut Anda tentu saya bisa beda) biasanya cukup detil dan untuk fiksi non fantasy dan menggunakan setting beneran, butuh riset yang mendalam supaya gak kelihatan “bohong”nya.

So membaca buku non fiksi sangat berguna bagi mereka yang (bercita-cita) akan menulis karya fiksi.

Ok, sudah cukup pembukaannya ya (dan sudah cukup edit-editannya! Salah muluk nih ngetiknya)

Dalam “On Managing Youfself” ini, Harvard Business Review mengeluarkan 10 tulisan yang menurut mereka masih tetap relevan sampai saat ini. Salah satu tulisan yang saya suka (halah dari tiga tulisan doank) adalah “Management Time: Who’s Got Your Monkey? ” karyanya William Oncken, Jr.  dan Donald L. Wass. Tulisan ini sebenarnya sudah pernah dipublikasikan tahun 1974, tapi pas saya baca, ya ampuuuun…ini gue banget siyyy???–>reaksi o’on saya.

Isi utama tulisan ini sebenarnya mengenai bagaimana kita mengelola waktu dengan cara mampu memilah-milah mana yang sebenarnya kerjaan yang merupakan tanggung jawab dan memang role kita, dan mana yang sebenarnya pekerjaan atau role orang lain. Karena banyak orang yang justru waktunya malah habis mengerjakan pekerjaan orang lain (termasuk bawahannya), gara-gara mereka mau saja menerima pertanyaan atau menerima masalah yang “dilemparkan” rekan/bawahan sehingga bola panasnya ada di mereka, padahal sebenarnya isi pekerjaan tersebut termasuk tanggung jawab dan role  rekan atau bahkan bawahan mereka! Karena kita kadang suka gak sabaran dalam mementor atau meng-coach bawahan agar mereka bisa lebih berinisiatif, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaannya (termasuk kalau bertanya sesuatu itu harus dilengkapi dengan beberapa opsi jawaban, bukan sekedar bertanya dan mengharap si boss yang menjawab!), atasan biasanya suka mengambil alih peranan si bawahan atau rekan kerja, sehingga akhirnya waktunya habis mengerjakan pekerjaan orang lain!

Hoh….

Artikel menarik lainnya antara lain “Managing Oneself” yang merupakan artikel pertama dari buku ini, ditulis oleh Peter F. Drucker (Bapak Management, so people says), yang pada dasarnya menguraikan tiap orang itu belajar, berkembang, dan berkinerja dengan cara yang berbeda. Ada orang yang belajar dengan mendengar, ada yang menulis, bahkan ada yang belajar dengan berbicara. Ketika orang mengenali cara belajar yang cocok bagi mereka dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari termasuk bekerja, maka ia akan mendapatkan hasil optimal dan luar biasa. Mereka akan mempertajam dan mengasah kekuatannya, bahkan dapat meminimalisir kekurangannya.

Nah, itu dua artikel yang saya coba promosikan dalam review kali ini…ada 8 artikel lain yang saya yakin sama atau mungkin lebih menarik dan yang pasti akan bermanfaat bali kita, setidaknya bagi saya sendiri.

Ini list lengkapnya:

1. Managing Oneself (Peter F. Drucker)

2. Management Time: Who’s Got the Monkey? (William Ocken, Jr., and Donald L. Wass)

3. How Resilience Works (Diane L. Coutu)

4. Manage Your Energy, Not Your Time (Tony Schwartz and Catherine McCarthy)

5. Overloaded Circuits (Edward M. Hallowell)

6. Be a Better Leader, Have a Richer Life (Steward D. Friedman)

7. Reclaim Your Job (Sumantra Ghoshal and Heike Bruch)

8. Moments of Greatness: Entering the Fundamental State of Leadership (Robert E. Quinn)

9. What to Ask the Person in the Mirror (Robert S. Kaplan)

10. Primal Leadership: The Hidden Driver of Great Performance (Daniel Goleman, Rihard Bayatzis, and Annie Mckee)

On Managing Yourself, HBR’s 10 Must Reads
Reading Club

Balikpapan Reading Club

Awalnya saya merasa sedikit banget pecinta buku dan pembaca kayak saya di Balikpapan. Setidaknya di antara teman kantor, yang paling nyambung kalo diajak ngobrol tentang bacaan hanya beberapa orang, salah satunya bernama Mbak Ayang yang saat ini sedang ditugaskan di Paris, Perancis.

Bagi saya selama saya masih punya waktu membaca dan masih bisa mendapatkan bacaan yang saya mau, hidup di Balikpapan insyaAllah tidak masalah.

Tapi tentunya lebih asyik lagi kalau kecintaan kita terhadap bacaan tidak berhenti hanya pada tahapan membaca, tapi diperdalam dengan berpikir.

Kata orang, readers are many, thinkers are rare (lupa kata siapa). Dan salah satu cara yang sepertinya cukup ampuh untuk mempertajam pikiran kita adalah dengan berdiskusi.

Untungnya, saya dikenalkan dengan Mbak Mel, or sering juga dipanggil Mbak Mei, yang ternyata adalah sahabat Mbak Ayang.

Mbak Mel ternyata pecinta buku juga (oh senangnyahhh), dan lebih aktif dari saya dalam dunia penulisan, perbukuan, termasuk per”lukisan” (okeh, saya akui, ini sepertinya bukan istilah yang benar). Ditambah lagi kita sama-sama berprofesi di dunia HR, jadilah nyambung.

Ternyata eh ternyata lagi, saya juga dipertemukan dengan Nina Tunjung, salah satu teman les Perancis yang akif suratif terutama dalam kegiatan kampanye Balikpapan Berkebun. Nina ternyata mengenal Mbak Mel, karena mereka berada dalam suatu kelompok pendukung perpustakaan. Nina dan Mbak Mei juga berteman juga dengan Annisa dan Milla, yang merupakan pendiri/anggota Nulis Buku cabang Balikpapan.

Maka jadilah, kami berlima, sepakat untuk mulai bertemu dan mendiskusikan buku yang kami baca.

Pertemuan perdana dilakukan di rumah Mbak Mel, kalau tidak salah 8 September 2012.

Senang bisa bertemu dan berdiskusi dengan sesama pecinta buku.

At least we found a way to make our brain alive! 🙂

Maju terus pantang mundur ya teman-teman!

Pertemuan perdana Balikpapan Reading Club (halah…). Mari kita teruskan semangat membaca ya teman-teman!
Review

This Month Fantasy Books: Holly Black’s Curse Worker Series

I really love the series.

Curse Worker series by Holly Black

.

I love the way Holly Black exposed the character, especially on how they think and feel.

The Curse Worker Series consisted of 3 books: White Cat (Book 1), Red Glove (Book 2) and Black Heart (Book 3), but I think you can read it independently. I read the 2nd book first. But the strong opening in White Cat makes me fall in love with it.

“I wake up barefoot, standing on cold slate tiles. Looking dizzily down. I suck in a breath of icy air. Above me are stars. Below me, the bronze statue of Colonel Wallingford makes me realize I’m seeing the quad from the peak of Smythe Hall, my dorm. I have no memory of climbing the stairs up to the roof. I don’t even know how to get where I am, which is a problem since I’m going to have to get down, ideally in a way that doesn’t involve dying.” (White Cat, Holly Black, Chapter I)

The main character is Cassel Sharpe, a 17 years old boy who, for me,  feels trapped and choose to become an almost compulsive liar, mostly lying to him self, keep his head low while trying to solve the problem and danger caused by his dark magic power (transformation curse, an ability to change anything into anything he wanted) and family. He loves his family and friends, but he knows he brings danger, his memory has been purposedly erased and changed and that makes him believe he killed his best friend Lila, and that’s why he tries to stay away from everybody.

Only people seem just could not stay away from him.

Black put his character as the first person point of view, which I think is quite brave since everything will be limited to this person’s view. But Holly knows better in playing the emotion. She made it so visual I read it just like I watch a movie.

In each book, you can see everything is starting to grow. Starting from the 1st book where Cassel accidentally found out about his dark magic power and    start to know the truth about his memories that have been cut off by his own brother. That he did not kill his best friend the way he always think and feeling guilty about it. Lila is still alive, Cassel is not a killer and he needs to find a way to save her, save his family, and also him self. In the 2nd book, Cassel’s oldest brother was killed and the FBI agent is starting to open a murder case which is most likely related to Cassel’s dark magic ability, transformation. Working with FBI agent will expose Cassel’s family, who are illegally working for the most dangerous mobster at that time, Lila’s father. At the same time, Cassel’s mom, an emotion worker, has turned Lila emotion and made her loving Cassel blindly. Cassel feels tortured because he realized that he loves Lila, but Lila’s feeling for him was not real. In the 3rd book, Cassel got involved deeper with the FBI agents, and his mom was deeply involved with a corrupted politician with unstable emotion, running the government against FBI and the Mob. Lila has officially become a member of his father’s mobster business. FBI has approached Cassel to join them so they can use his ability to prevent dangerous statement from the governor.  In this final book, Cassel, once again, tortured between loving his family and Lila, he tried to escape from the FBI’s trap and the Mob.

I read these book more than 3 times. I just feel not get enough Holly Black’s juicy way in expressing Cassel’s feelings.

Try it.